Ekonomi Indonesia

Oleh Nur Indah Fitriani

Dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke‑60, Harian Kompas menyajikan laporan komprehensif tentang perjalanan ekonomi bangsa sejak 1965 hingga saat ini. Potret tersebut mendorong lahirnya suatu pertanyaan; “Dalam gelombang ke berapakah ekonomi Indonesia dewasa ini?” Berdasarkan laporan tersebut yakni data historis yang dirangkum oleh tim JEO Kompas, serta sejumlah informasi dari sumber lainnya, saya menyimpulkan bahwa Indonesia kini telah memasuki Gelombang Keempat dalam sejarah pembangunan ekonominya.

Gelombang ini ditandai oleh reformasi struktural, digitalisasi ekonomi, dan upaya pemerataan pertumbuhan pasca pandemi. Untuk memahami posisi ekonomi kita saat ini, penting untuk menengok kembali bagaimana setiap gelombang sebelumnya terbentuk dan membentuk wajah ekonomi Indonesia hari ini.

Empat Gelombang Ekonomi Indonesia

            Berikut ini adalah ringkasan perkembangan ekonomi Indonesia semenjak era Presiden Soekarno hingga saat ini.

Gelombang 1 – Era Soekarno (1945–1967): Nasionalisasi dan Krisis

Pasca kemerdekaan, fondasi ekonomi Indonesia masih lemah. Hiperinflasi melanda dengan tingkat yang bisa mencapai 600–1.000% pada awal 1960‑an. Upaya pemerintah membangun ekonomi melalui nasionalisasi dan defisit anggaran besar tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Pertumbuhan menjadi rapuh, dan krisis ekonomi pun tak terhindarkan meski negara telah ditopang oleh keberhasilan menasionalisasi perusahaan era kolonial.

Karakteristik utama: ekonomi sangat dipengaruhi politik, hiperinflasi, instabilitas, dan kebijakan sentralistik tanpa keseimbangan fiskal. Terutama juga oleh sentiment global akibat kampanye anti-neokolonialisme dan imperialisme (anti-nekolim) oleh Soekarno. Barat meradang, Indonesia dilawan, krisis datang: tiga fenomena yang datang bersamaan.

Gelombang 2 – Era Soeharto / Orde Baru (1967–1998): Industrialisasi dan Pertumbuhan Tinggi

Dimulai dari stabilisasi moneter dan reformasi fiskal, perekonomian Indonesia memasuki fase pertumbuhan yang tinggi, rata-rata 6–7% sepanjang 1970‑an hingga pertengahan 1990‑an. Transformasi dari ekonomi berbasis minyak ke manufaktur ekspor menjadi kunci. Berbagai kebijakan deregulasi dan liberalisasi investasi seperti Paket Oktober (Pakto) 1988 membuka keran modal asing dan pembangunan infrastruktur besar-besaran.

Karakteristik utama: pertumbuhan pesat, industrialisasi, peran besar negara dan kroni, namun kelemahan mendasar dalam institusi dan transparansi. Namun, Indonesia seperti telah menyerahkan diri pada asuhan kapitalisme global yang akar-akarnya sedang dikuatkan dalam sejumlah kontrak karya terutama dalam insustri pertambangan dan energi.

Gelombang 3 – Era Reformasi (1998–2014): Konsolidasi dan Stabilitas Ekonomi

Krisis moneter 1998 meluluhlantakkan ekonomi (pertumbuhan anjlok hingga ‑13%). Namun dari titik nadir ini, ekonomi Indonesia mulai pulih secara bertahap di bawah pemerintahan Habibie, Gus Dur, Megawati, hingga SBY. Desentralisasi fiskal, independensi Bank Indonesia, dan penguatan sektor swasta menjadi kunci stabilitas jangka panjang.

Karakteristik utama: konsolidasi demokrasi ekonomi, pertumbuhan moderat 5–6%, penguatan UMKM, desentralisasi fiskal, dan munculnya kelas menengah baru. Ada dorongan besar untuk bangkit bersama agenda kemandirian yang mati pucuk di era Soekarno: agenda trisaksi yang gagal, khususnya berdiri di atas kaki sendiri (berdikari): mandiri secara ekonomi. Namun gejolak politik menjadi agenda domestic Indonesia yang sangat norak dan seperti kehilangan peta.

Gelombang 4 – Era Pasca‑2014 dan Pandemi: Transformasi Digital dan Pemerataan

Pemerintahan Presiden Joko Widodo membawa fokus baru: pembangunan infrastruktur dan efisiensi belanja publik. Meski pertumbuhan ekonomi belum signifikan meningkat, landasan transformasi mulai ditata. Pandemi COVID‑19 menjadi ujian besar, namun Indonesia pulih dengan cepat. Era ini ditandai pula oleh digitalisasi ekonomi, kemajuan konektivitas, dan munculnya startup teknologi yang mengubah lanskap ekonomi.

Karakteristik utama: digitalisasi ekonomi, percepatan infrastruktur nasional, pemerataan pertumbuhan ke luar Jawa, dan ketahanan fiskal menghadapi tantangan global. Meski demikian, pola-pola kerapuhan akibat disparitas dan kesenjangan yang akan terbuka semakin lebar dapat membuka kerawanan ekonomi yang lebih besar di masa depan.

Kini, Gelombang Keempat Telah Dimulai

Berdasarkan laporan ulang tahun ke‑60 Kompas, serta data BPS dan Kementerian Keuangan hingga 2024, kita dapat menyimpulkan bahwa ekonomi Indonesia telah memasuki Gelombang Keempat: fase transformatif yang tidak sekadar bertumpu pada pertumbuhan, tetapi berusaha menata ulang struktur ekonomi nasional. Hal ini tampak dalam fokus pemerintah pada integrasi digital, kebijakan industri berbasis energi terbarukan, dan upaya inklusi ekonomi di wilayah tertinggal.

Transformasi ini tak lagi hanya bicara soal PDB, tetapi menyasar fondasi: efisiensi birokrasi, produktivitas UMKM, dan penguatan ekonomi daerah.

Ringkasan Gelombang Ekonomi Indonesia

Tabel Gelombang Ekonomi Indonesia

GelombangPeriodeKarakteristik Utama
11945–1967 (Soekarno)Nasionalisasi, inflasi ekstrem, instabilitas makro
21967–1998 (Soeharto)Industrialisasi, pertumbuhan tinggi, dominasi korporasi besar
31998–2014 (Reformasi)Stabilitas, desentralisasi, reformasi kelembagaan ekonomi
42014–sekarang (Jokowi & pasca‑pandemi)Infrastruktur, digitalisasi, pemerataan, ketahanan fiskal

Sumber: Diolah dari Laporan Kompas Edisi Khusus, 28 Juni 2025

Momentum Sejarah di Ujung 60 Tahun Kompas

Saat Harian Kompas merayakan ulang tahunnya yang ke‑60, ekonomi Indonesia juga menandai tonggak sejarah baru. Kita telah melewati tiga gelombang pembangunan ekonomi penuh gejolak dan kini berada di ambang peluang transformasi yang sesungguhnya.

Gelombang Keempat ini bukan sekadar lanjutan, tetapi titik belok. Ia menjadi panggung bagi Indonesia untuk mengukuhkan diri sebagai negara dengan ekonomi besar yang berdaya saing, berkelanjutan, dan merata. Tantangannya masih banyak, namun fondasinya sudah lebih kuat dari sebelumnya.

Sejarah ekonomi Indonesia adalah sejarah gelombang-gelombang. Kini kita berada di tengah arus Gelombang Keempat. Apakah kita siap mengarunginya sampai pantai yang lebih adil, makmur, dan inklusif? Seperti Kompas yang tetap setia memberi arah, kita pun perlu memastikan bahwa arah ekonomi bangsa tak meleset dari cita-cita kemerdekaan. Sangat banyak pihak yang menaruh rasa ragu. Kita lihat saja nanti.

*Penulis adalah Tenaga Ahli Anggota DPR RI 2009-sekarang

Posted in ,

Tinggalkan komentar